MERINDUKAN TERANG BULAN DAN CAHAYA BINTANG

 ADAT ISTIADAT, Duniaberita, JURNALISME WARGA, PENDIDIKAN
Oleh: Jannerson Girsang
Oleh: Jannerson Girsang

Masa lalu itu memberi kita pelajaran memaknai masa sekarang. Meski sudah lewat dan tidak bisa diulang lagi, tetapi masa lalu tidak boleh dilupakan, karena dia menciptakan nilai, budaya yang baik yang tidak boleh hilang.

Di masa anak-anak, usia sekitar 5-6 penerangan di kampung saya Nagasaribu, Kabupaten Simalungun hanya dari lampu teplok.

Jadi, penerangan itu hanya ada di rumah. Kalau ke luar rumah, paling-paling pakai “obor”–bambu yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu.

Terangbulan adalah masa yang dinanti-nantikan. Cahaya bulan–yang berasal dari pantulan sinar matahari itu, beberapa malam sebulan menjadi alat penerangan, atau penghibur utama di malam hari.

Cahaya bulan merupakan “listrik raksasa” di malam hari.
Kalau bulan sudah mengecil dan mengecil, atau terbitnya sudah hampir tengah malam, maka bintang-bintang akan menjadi sumber penerangan utama di luar rumah.

Dalam keadaan gelap seperti itu, dan kebetulan tidak punya obor, kita sering terjerembab masuk got, atau menabrak kereta lembu, menginjak tahi lembu yang masih hangat.

Sungguh kita bersyukur sekarang ini. Yang namanya malam, siang tidak ada bedanya. 24 jam “terang” dimana-mana, di dalam atau di luar rumah.

Kecuali kalau PLN padam!.

Kota tidak peduli bintang dan terang bulan. Kita yang tinggal di kota tidak memerlukan cahaya bintang dan bulan.

Sayangnya, tidak ada lagi “Martumba” di poltak ni bulan! Tidak ada “Rondang Bintang” lagi. Di kota tidak ada lagi lobang hidung yang hitam ke sekolah karena penuh terisi asap lampu teplok.

Teknologi akan melahirkan sesuatu yang baru, tetapi dalam waktu yang bersamaan akan menghilangkan nilai, budaya baik yang lahir dari situasi masa lalu.

Memang perkembangan teknologi tidak bisa dihempang, dan banyak menghasilkan kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia. Tetapi untuk eksis di dunia, manusia tidak boleh mengabaikan pelestarian nilai dan budaya lokal.

Dalam keadaan terang benderang 24 jam, seharusnya pikiran kita juga terang benderang! Kita tidak punya ganti “Martumba”, “Rondang Bintang” bagi anak-anak kita di kota.

Bagaimana mereka menghargai alam ciptaan Tuhan, bagaimana mereka menghargai “bulan” dan “bintang”–sumber terang di masa lalu di malam hari, bagaimana mereka menghargai sesamanya.

Di dalam “terang” seharusnya masyarakat kita tidak justru merindukan dan gemar mendapat hiburan di “kegelapan”.

Kini, banyak orang di kota mencari hiburan justru di tempat gelap: diskotik, kafe, rumah “kitik-kitik” yang gelap, atau ruang-ruang gelap lainnya. Melakukan transaksi barang “haram” narkoba di ruang “gelap”.

Ruang-ruang terbuka yang terang benderang makin sempit dan terancam oleh desakan pembangunan!. Tidak ada taman-taman yang cukup luas di kota. Semua dijadikan bangunan, dan sebagian diantaranya jadi “ruang gelap”.

Oh, ya…ya. Kenapa sih?
Sadarkah kita, bahwa makin banyak “terang” makin banyak tercipta ruang gelap, makin banyak orang merindukan hiburan di tempat “gelap”, hubungan “gelap”, “menggelapkan” uang negara?

Sesuatu yang berubah dari masa lalu, dimana orang merindukan terang! Sudah terang, tetapi justru banyak orang merindukan “kegelapan”.

Di abad :”terang”, justru bertindak, berbicara “di kegelapan”, tidak mampu bertindak dan berbicara “terus terang”.

Di tengah terangnya cahaya listrik, apakah kita masih perlu merindukan “kegelapan”, bukankah “terang” itu yang kita rindukan di masa lalu? Mari kita renungkan bersama! (**)

Related :

  • rekaman skandal gelap ariel
  • skandal kamera gelap syahri com

Related Posts

Tinggalkan Balasan