INILAH KARAKTERISTIK MINIGUN BUATAN ASLI INDONESAI DAN PERBANDINGANNYA DENGAN BUATAN NEGARA ASING

 BUATAN NEGERI, Duniaberita, INDONESIA, INDUSTRI MILITER, KARAKTERISTIK, MILITER, MINIGUN, NEGARA ASING, NEWS, PRODUK DALAM NEGERI, SENJATA, SPESIFIKASI

INDONESIAN MILITARY | Warjager pasti sudah tidak asing dengan senjata bernama minigun. Jenis senapan mesin ini memiliki lebih dari 2 laras yang berputar pada suatu poros dan dapat memuntahkan lebih dari 3000 peluru per menitnya. Minigun pada dasarnya memiliki kaliber yang lebih kecil dari gatling gun, di mana minigun hanya berkaliber di bawah 20 mm. Minigun yang terkenal sudah pasti adalah M134 Minigun buatan Dillon Aero, AS. Baru-baru ini TNI membeli minigun ini untuk dipasangkan ke helikopter atau kendaraan lainnya.
Tahukah anda, bahwa sebenarnya Indonesia sudah bisa membuat minigun sendiri dan berikut adalah 3 minigun buatan Indonesia :
1.Lodaya Gatling Gun
Senapan mesin rotasi bertipe gatling gun ini bernama “Gatling Lodaya” ini dibuat oleh Litbang Kopassus berdasarkan modifikasi senjata SMR Minimi 5,56 mm dan GPMG 7,62 mm, dengan sedikit modifikasi dan penambahan jumlah laras dengan metode revolver jadilah mini gatling Lodaya dengan biaya pembuatan per unit antara 5 s/d 7 juta rupiah. Sebenarnya penggunaan kata “Gatling Gun” agak salah, karena gatling gun berkaliber 20mm ke atas, sedangkan Lodaya hanya berkaliber 5,56mm. Berikut spesifikasi Lodaya dan target yang ingin dicapai Litbang.
Jika Lodaya gatling gun ini jadi diproduksi massal, Lodaya bisa dibilang sekelas dengan XM214 Microgun buatan General Electric, Amerika Serikat. Berikut spesifikasi XM214 Microgun :
Berat : Senjata 11,6 kg, motor penggerak 3,4 kg.
Panjang : 104,1 cm konfigurasi Six-Pak (versi man-portablenya), 68,6 cm senjata biasa.
Cartridge : 5,56x45mm M193.
Kecepatan tembak : Bervariasi antara 400 sampai 10.000 peluru per menit (ada juga 1.000 dan 6.000 ppm).
Kecepatan peluru : 990 m/s.
2. Senapan Mesin Multi Laras (SMML)
SMML bisa jadi merupakan cikal bakal minigun versi lokal. SMML mengusung caliber 7,62 mm, yang berarti SMML memiliki daya gempur, akurasi, dan jangkauan yang lebih jauh dari Lodaya gatling gun yang hanya mengusung caliber 5,56 mm. Mengutip informasi dari Majalah Komando Volume VIII No.5, disebutkan perancangan SMML telah dimulai delapan tahun lalu. Sebuah tim kecil Dislitbang dibentuk untuk mempelajari dan merancang pengembangan senapan multilaras ini, dengan team leader Ade Kusnadi yang sekaligus menjadi kreatornya. Namun, baru pada tahun 2010 proyek ini resmi diangkat menjadi program nasional.
Kendala yang dihadapi tim Ade Kusnadi antara lain tidak adanya minigun yang bisa dijadikan contoh atau di reverse-engineering. Oleh karena itu pembuatan SMML dari nol, dan memakan waktu yang lama. Sepintas tampilan luar SMML terlihat menyerupai M134 Mini Gun buatan Dillon Aero. Begitu pula mekanisme kerjanya juga diyakini serupa. Namun dapat dipastikan seluruh rancangan SMML berbeda. Semua komponen diracang sendiri secara detail dengan bantuan program desain CATIA yang juga digunakan untuk menganalisa sistem kerja mekanisme dari rangkaian desain komponen yang dibuat.
Kini, SMML yang prototipnya dibuat Pindad ini telah mencapai 80%. Dalam kondisi ini dapat dikatakan SMML baru mencapai taraf proof of concept, yakni secara teori baru sampai pada fase pembuktian sistem mekanisme senjata bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Belum sampai proses pengujian dinamis menggunakan peluru, sesi yang paling kritis. Berikut spesifikasi SMML:
Kaliber : 7,62mm
Panjang : 96,25 cm.
Berat : 90 kg (yang satu ini agak aneh, kok bisa beratnya 90 kilogram padahal idealnya minigun beratnya antara 10-30 kg).
Jumlah laras : 6 batang.
Pengisian amunisi : Disintegrated.
Kecepatan tembak : 2.500 – 3.000 peluru / menit.
Jarak tembak : 1.000 – 1.500 meter.
Sumber arus : DC 24 Volt.
3.Eli Gun
Dari ketiga minigun buatan Indonesia, bisa dibilang Eli Gun adalah minigun yang paling siap diproduksi massal dan siap tempur. Eli Gun ini dibuat oleh Komodo Armament (PT. Tanfoglio Indonesia Jaya, dulu PT. Danan Armament Technology) dengan bekerja sama dengan pihak Italia. Dengan siapa perusahaan ini bekerja sama belum saya ketahui. Berikut spesifikasi Eli Gun :
Kaliber : 7,62 x 51 mm
Panjang keseluruhan : 96,5 cm (38 inci)
Panjang laras : 59,7 cm (23,5 inci)
Tinggi : 28,5 cm (11,2 inci)
Lebar : 34 cm (13,4 inci)
Berat : 19,5 kg (43 pon)
Berat total sistem: 30,9 kg (68 pon)
Sistem pengisian: Sabuk amunisi 7,62mm
Barrel rate of twist : 1: 10
Mode tembak : Hanya full auto
Kecepatan tembak : Ideal 3400 ppm, kisaran 3000-4000 peluru per menit
Kecepatan akselerasi : 0,5 detik
Kecepatan deselerasi : 0,4 detik
Daya yang dibutuhkan : DC AT 38 AMPS 24 volt
Operasi : Kekuatan listrik dari luar (eksternal)
Umur laras : Lebih dari 200.000 tembakan
Umur sistem : Sekitar 1.700.000 tembakan
Kekuatan tolak balik : 3000 ppm-200 pon, 3200 ppm-235 pon, 4000 ppm-235 pon
Harga : Berkisar USD 150.000-USD 300.000
Dari spesifikasi yang diberikan, bisa jadi minigun ini menjadi saingan M134 Minigun buatan AS. Mari kita lihat spesifikasi M134 Minigun :
Berat : 39 kg, 19 kg versi ringan
Panjang : 801,6 cm
Panjang laras : 558,8 cm
Cartridge : 7,62x51mm NATO
Kecepatan tembak : 2000-6000 ppm
Kecepatan tembak : 853 m/s
Jangkauan maksimum : 1000 meter
Dari perbandingan spesifikasi antara Eli Gun dan M134 Minigun, dapat dilihat keduanya sangat bersaing. Namun apa daya, TNI justru memilih untuk membeli 20 buah M134 minigun dibanding Eli Gun. Malah, beberapa negara Timur Tengah sudah memesan sampai 200 pucuk total yang dibeli. Ironis, bukan? Sebenarnya Komodo Armament bukanlah satu-satunya perusahaan pertahanan yang diabaikan oleh negeri ini sendiri, namun diapresiasi oleh negara luar.
Semua kembali kepada pemangku jabatan, kenapa lebih memilih senjata buatan luar negeri dibanding di dalam negeri. Tetapi, jika M134 dibeli untuk keperluan reverse-engineering (dibongkar dan dipelajari) saya rasa itu hal yang lumrah.

Ditulis oleh : AutoVeron

Related :

  • roket buatan malaysia
  • Kelasmen pon

Related Posts

Tinggalkan Balasan